Diperkirakan 150 orang di Indonesia melakukan bunuh diri setiap harinya.
Angka ini didasarkan pada data organisasi kesehatan dunia (WHO) pada
2005, yang mengungkapkan bahwa sedikitnya 50.000 orang Indonesia
melakukan tindak bunuh diri tiap tahunnya. Indonesia beranjak mendekati
posisi jepang, dengan tingkat bunuh diri mencapailebih dari 30.000 orang
per tahun dan cina yang mencapai 250.000 per tahun.
Versi catatan WHO,saat ini terdapat 121 juta orang mengalami depresi. Menurut catatan badan kesehatan dunia ini pula, sebanyak 5,8 persen pria dan 9,5 persen wanita di dunia pernah mengalami episode depresif dalam hidup mereka. Pada 2020 mendatang, depresi diperkirakan akan menempati peringkat kedua sebagai masalah kesehatan dunia paling banyak diderita di dunia, setelah penyakit jantung.
Bahkan akhir-akhir ini trend bunuh diri cenderung melebar, dua kasus terakhir dimana seorang ibu mengajak anaknya bunuh diri dengan cara membunuh anak terlebih dahulu dan kemudian dilanjutkan dengan melakukan pembunuhan terhadap dirinya sendiri. Setidaknya itulah yang terjadi pada tempo bulan yang lalu.
Beban hidup dan juga himpitan ekonomi seringkali dituding menjadi sebab utama dari perbuatan yang diharamkan oleh Allah SWT. Namun jika di amati lebih jeli ternyata kasus bunuh diri ini berkaitan dengan keimanan.
Buktinya ada juga perilaku bunuh diri yang dilatarbelakangi masalah kesehatan, didera sakit menahun yang tak kunjung sembuh, atau tak tercapai cita-citanya. Hal ini senada dengan apa yan diungkapkan oleh seorang psikolog sekaligus direktur yayasan kita dan buah hati, Elly Risman, ia menolak tegas anggapan tekanan ekonomi menjadi penyebab utama seorang ibu tega membunuh anak kandungnya sendiri. "ini adalah kasus kehancuran jiwa. Faktor kejiwaan si ibu melatarbelakangi tindakannya. Dengan kondisi yang demikian, si ibu kurang kesiapan untuk menjadi orangtua."kata Elly Risman.
Perbaikan kondisi perekonomian dengan diimbangi ketaqwaan tentu dapat memotivasi diri kita untuk terus bertahan hidup. Tentu saja hal ini harus diimbangi ketaqwaan tentu dapat memotivasi diri kita untuk terus bertahan hidup. Tentu saja hal ini harus diimbangi dengan keilmuan orang tersebut. Jika saja orang tersebut belajar dan memqunya ilmu, baik ilmu ekonomi dan juga memutarkan roda perekonomian,tentu akan mampu melihat peluang atau alternatif menjadi kian buruk ditengah sempitnya lapangan kerja dan tingginya tingkat pengangguran.
Begitu juga ilmu agama sangat penting, dimana dengan memahami ilmu agama seseorang akan mengetahui bahwa manusia dilarang untuk menyakiti dirinya, apalagi sampai membunuh diri sendiri yang tak lain balasannya adalah NERAKA.
Versi catatan WHO,saat ini terdapat 121 juta orang mengalami depresi. Menurut catatan badan kesehatan dunia ini pula, sebanyak 5,8 persen pria dan 9,5 persen wanita di dunia pernah mengalami episode depresif dalam hidup mereka. Pada 2020 mendatang, depresi diperkirakan akan menempati peringkat kedua sebagai masalah kesehatan dunia paling banyak diderita di dunia, setelah penyakit jantung.
Bahkan akhir-akhir ini trend bunuh diri cenderung melebar, dua kasus terakhir dimana seorang ibu mengajak anaknya bunuh diri dengan cara membunuh anak terlebih dahulu dan kemudian dilanjutkan dengan melakukan pembunuhan terhadap dirinya sendiri. Setidaknya itulah yang terjadi pada tempo bulan yang lalu.
Beban hidup dan juga himpitan ekonomi seringkali dituding menjadi sebab utama dari perbuatan yang diharamkan oleh Allah SWT. Namun jika di amati lebih jeli ternyata kasus bunuh diri ini berkaitan dengan keimanan.
Buktinya ada juga perilaku bunuh diri yang dilatarbelakangi masalah kesehatan, didera sakit menahun yang tak kunjung sembuh, atau tak tercapai cita-citanya. Hal ini senada dengan apa yan diungkapkan oleh seorang psikolog sekaligus direktur yayasan kita dan buah hati, Elly Risman, ia menolak tegas anggapan tekanan ekonomi menjadi penyebab utama seorang ibu tega membunuh anak kandungnya sendiri. "ini adalah kasus kehancuran jiwa. Faktor kejiwaan si ibu melatarbelakangi tindakannya. Dengan kondisi yang demikian, si ibu kurang kesiapan untuk menjadi orangtua."kata Elly Risman.
Perbaikan kondisi perekonomian dengan diimbangi ketaqwaan tentu dapat memotivasi diri kita untuk terus bertahan hidup. Tentu saja hal ini harus diimbangi ketaqwaan tentu dapat memotivasi diri kita untuk terus bertahan hidup. Tentu saja hal ini harus diimbangi dengan keilmuan orang tersebut. Jika saja orang tersebut belajar dan memqunya ilmu, baik ilmu ekonomi dan juga memutarkan roda perekonomian,tentu akan mampu melihat peluang atau alternatif menjadi kian buruk ditengah sempitnya lapangan kerja dan tingginya tingkat pengangguran.
Begitu juga ilmu agama sangat penting, dimana dengan memahami ilmu agama seseorang akan mengetahui bahwa manusia dilarang untuk menyakiti dirinya, apalagi sampai membunuh diri sendiri yang tak lain balasannya adalah NERAKA.



0 komentar:
Posting Komentar